Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Mei 2021

Dari Dadaku yang Sudah Batu

 


Di hitam matamu gairah ini kupadatkan.

Rindu ini kukentalkan.

Tahun-tahun kuringkas.

Abad-abad kusingkat.

Kisah sejarah kulebur.

Menjadi sekedar kesunyian.


Dan di meja perjudian

ini namamu kunyanyikan.

Dari doa-doa yang tak pernah tumbuh.

Dari dadu hisup yang beku.

Dari dadaku yang sudah batu.

Tak Perlu Kau Simpan

 




Singgahlah sejenak

Aku tengah merupa senja.


Tertangkap matamus aja sudah cukup

tak perlu kau simpan

Kelak aku akan tenggelam


Terlalu dalam

Doa-doa Nestapa

 


 

Kita bertemu di sela sunyi,

memasang mata ke lubuk kata

Kaujelma udara dan kuhela Engkau

Dalam doa-doa parau

 

KecupanMu adalah musim semi di tandus jiwaku

Lalu pada hening yang bening,

angin meriwayatkanMu pada seluruh dingin

 

Selepas itu, aku akan kerap memenung diri

Merayakan hari-hari sepi dan waktu bak sangkar belati

 

Nada dalam nadiku

Adalah doa-doa nestapa

Ingin memelukMu

 

Jombang, sore penghabisan, 29 Februari 2020

 

 


Minggu, 18 November 2018

Kita dan Percik Cahaya





Kita dan Percik Cahaya


Di Pelataran senja, kaulempari langit dengan kegelapan luka

Membenamkanku pada ufuk yang sayup. Lantas menyepuh roman usang pada awan-awan berarak pulang

Hadirmu adalah percik janji di Seribu kisah

Menyalakan kilau kenangan di jenggala waktu, ketika Sang Surya karam terhantam waktu

Sedang Aku, Jingga

Tak lelah kau sia-siakan dalam keremangan, meski harus menjelma siluet dan rela ditikam malam

Kita hanyalah Senja dalam cinta yang tak abadi

Enyah untuk punah

Sejenak mendekap lindap ketika gemintang mulai menjelang

Hilang

Pergi tanpa pertanda kembali

 




 




Kamis, 15 November 2018

Alium

Alium



Anomali, berdiri sebagai perbedaan bukanlah persoalan
Aku adalah penentang semesta. Dan kau sayap yang terus kujaga
Kadang aku tak tahu, sejauh mana kau mampu membawaku?
Dunia lain?
Dimensi lain?
Atau bahkan diriku yang lain?
Pernah sekali waktu aku tak mempercayaimu
Hari ini
Ketika aku sadar bahwa tidak pernah ada kesadaran dalam diriku
Kita sudah lama hancur
Lalu di sepanjang masa menciptakan pesta tawa yang gila untuk merayakan segalanya

Air mata, putus asa